Minggu, Maret 30, 2008

Selamat Ulang Tahun Nak

My lovely Sons, bulan ini berulang tahun. Kebetulan hari ulang tahun mereka hanya selisih 6 hari. Rizal 24 Maret sedangkan Rafif 30 Maret. Rizal tahun ini 8 tahun, sedangkan Rafif 3 tahun. Ada yang pernah berkomentar kok pinter ya ngaturnya bisa selisih 5 tahun gitu. Belum tahu dia gimana kok bisa gitu :)

Kebiasaan di keluarga kami kalau ada yang ulang tahun semua datang mulai Bapak Ibu ku, juga Ibu mertua. Lalu adik-adikku dan adik iparku beserta buntut-buntutnya.. Wuah rame pokoknya..


Nah karena selisih hari ultahnya cuma 6 hari biasanya kami jadikan satu. Tapi si Rizal protes nggak mau dijadikan satu sama adiknya. Maunya sendiri-sendiri. Yah.. Mungkin karena dia sudah mengerti jadi begitu. Masalahnya kalau sendiri-sendiri kasihan yang datang.. Soalnya ada yang jauh-jauh dari Surabaya. Kedua juga lebih berat di ongkos he..he..


Akhirnya biasanya kita cari aja yang hari libur dekat hari mereka berdua ultah. Tapi khusus Rizal pas hari jadinya yang penting ada tiup lilin :)


Nah seperti juga tahun ini, hari ultah Rizal pas hari Senin sedangkan Rafif pas hari Minggu. Akhirnya dipilihlah hari Sabtu untuk merayakan ultah mereka berdua.


Tapi pas Senin tetap ada acara tiup lilin untuk Rizal :). Ini fotonya. Aku belikan Vieneta terus dikasih lilin angka 8 dan ada patung narutonya :). Hadiah sudah dibeli hari Sabtu tapi aku bilang tunggu senin ya... Dia nurut juga, ya udah jadilah kadonya dibungkus bagus dan baru dibuka hari Senin :). Isinya mainan mobil yang ada tracknya. Si Rizal yang pilih sendiri.. Tapi ya gitu.. milihnya lamaaaa banget :), kebanyakan yang bagus malah bingung :)




Satu lagi dia minta cd mainan bobby bola. Nah ceritanya cd bobby bolanya belum dicoba sama sekali, eh Si Pip (panggilan sayangku untuk Rafif) waktu ngeluarkan cdnya keras banget jadinya cdnya pecah deh :(. Hiks.. Harganya 98ribu lho :(... Untungnya boleh ditukar. Hari selasa aku tukarkan. Tapi mesti bayar 25ribu. Gak papalah.. Yang penting gak ilang 98ribunya :).



Oh iya sebelumnya Eyang mereka sudah kasih kado, soalnya hari Minggu sebelum Rizal ultah mau pergi ke Batu. Tuh fotonya lagi bawa kado masing-masing :). He..he.. Rizal pake kostum kebangsaan tuh kalo di rumah sukanya cuma pake singlet dan cd :)









Nah pas hari Sabtu malam, aku ajak seluruh yang datang ke tempat makan namanya Warung Legen. Ini dulu adalah langgananku waktu kecil. Kenapa aku ajak ke sana, sebetulnya bukan karena enaknya tapi yang dekat, dan juga dekat dengan kantor. Habis akhir-akhir ini aku suibuk banget ada proyek yang sudah dekat deadline :(, jadinya ya ngatur acara kilat aja, sesempatnya. Biar ultah kecil-kecilan tapi perlu persiapan juga lho.. Biasanya sih di rumah aja. Tapi di rumah kan lebih ribet. Ya udah mumpung ada rezeki sekali-kali mengajak keluarga besar makan di luar :).


Alhamdulillah... Lancar.. Makanan laris, dan masih banyak yang bisa dibawa pulang :)


Ini foto-fotonya

























Keterangan gambar :


1. My parents sama salah satu keponakan. Namanya Naura



2 & 3 Kue Rizal & Rafif



4 Tiup lilin

5 Makan :)


6. Anak-anak berpose



7. Pagi hari buka kado :)





Anakku.. Cintaku.. Sayangku.. Selamat Ulang Tahun.. Semoga kelak kau menjadi anak anak yg sholeh dan bisa berkarya & bermanfaat bagi lingkunganmu. Dan bisa menjadi kebanggaan ayah ibu. Doa kami menyertaimu Nak.. Amin..

Kamis, Maret 20, 2008

Ayat-Ayat Cinta - Novel vs Film



Ayat-Ayat cinta. Sebuah fenomena yang muncul awal tahun ini menyebabkan orang berduyun-duyun ingin melihat film dan membeli novelnya. Tidak ketinggalan saya. Novelnya baru saja selesai saya baca, sedang filmnya sebetulnya awal ditanyangkan di bioskop saya sudah ikut ngantri namun tidak kebagian tiket :(. Akhirnya ada teman yang berbaik hati meminjamkan jadi lumayanlah :). Saat saya mulai menonton film itu sebetulnya saya lagi membaca setengah novelnya. Habis memang baca novel tentu butuh lebih banyak waktu yang harus diluangkan. Baca novelnya sendiri aku lakukan saat di perjalanan pas lagi dinas keluar kota. Kebetulan di kantor lagi ada project di Jakarta yang menyebabkan hampir seminggu sekali mesti ke sana.
Nah, di saat rasa penasaran pada filmnya yang diserbu penonton begitu banyak, ada film di tangan yang bisa ditonton untuk mengobati penasaranku. Kenapa penasaran?? Karena di milis beberapa kali kujumpai para pembaca novel tidak puas dengan film ini walaupun film nya demikian laris di pasaran.
Akupun mulai memutar filmnya dan menonton dengan seksama. Di adegan pertama langsung saya berkomentar sambil tersenyum... Yah.. memang filmnya tidak seperti novelnya... Contoh di adegan pertama dimana Maria turun ke Flat Fahri sendirian! Ini tidak pernah terjadi di novel karena Fahri sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis, sehingga setiap kali Maria berkunjung ke flatnya tidak pernah sendiri. Selalu ditemani kalau tidak orang tuanya ya adiknya.
Nah, kali ini aku kupas aja (pura-puranya jadi komentator nih :)) mulai dari novelnya dulu. Wah kalau saya bilang two thumbs up deh!! Novel ini menggunakan gaya bercerita aku, artinya semua kejadian yang diceritakan adalah seperti apa yang dialami oleh Fahri sendiri. Penggambaran kondisi di Mesir yang panas dan perjuangan dia dalam menjalankan rencana yang sudah dibuat sungguh bisa menggambarkan sosok Fahri yang demikian ideal. Novel ini menurut saya telah berhasil menyodorkan nuansa lain dari novel-novel cinta yang lain. Novel ini sekaligus juga menyampaikan dakwah Islam dengan sangat halus dan dikemas apik sehingga tidak berkesan menggurui. Ditunjang lagi dengan pandangan yang seutuhnya pernikahan dalam Islam dan tentang poligami.
Sosok Fahri sendiri digambarkan adalah sosok yang sangat memegang teguh ajaran agamanya. Sebetulnya ada yang mengganjal bagi saya untuk tokoh Fahri dalam novel ini. Bukan karena apa-apa, tapi menurut saya tokoh Fahri ini terlalu ideal untuk seorang manusia, bahkan mungkin sudah mendekati malaikat :). Apakah iya ada orang seperti itu saat ini?? Barangkali kalau dia memang ada banyak gadis yang antri untuk dia nikahi, bahkan banyak ibu-ibu yang mau menjadikannya menantu :).
Sosok Fahri ini digambarkan terlalu ideal menurut saya. Orangnya serius dan tidak pernah guyon. Di awal cerita sempat terbersit di benak saya bahwa Fahri ini tidak tertarik wanita :). Tetapi ceritanya bisa berbalik 180 derajat di 6/8 buku. Mungkin kang Habib penulisnya seharusnya bisa memberi sedikit sentuhan lain di sosok Fahri yang lebih 'mendarat'. lebih 'manusia' dimana dia juga tergoda walaupun itu hanya di pikirannya dan lalu ditepisnya. Di Film sosok Fahri tidak seideal di Novel. Fahri di film menurut saya lebih mendarat, namun sebetulnya jauh dari penggambaran sebenarnya di novel.
Bagaimana dengan di Film?? Secara general film Ayat-ayat cinta cukup menghibur dan memberi nuansa lain dari film-film yang saat ini banyak beredar. Hanya saja menurut saya film ini berbeda dengan novelnya! Makanya banyak pembaca yang protes setelah melihat filmnya karena memang berbeda. Fokus dari novelnya lebih ke penggambaran tokoh yang demikian teguh memegang prinsip agamanya, menggambarkan ajaran dan pandangan Islam yang sebenarnya. Sedangkan di film, lebih mengeksploitasi kisah cinta antara Fahri, Maria dan Aisha. Seperti halnya sinetron, penonton dibuat haru biru dengan kisah cinta ini.
Di Film, banyak adegan yang tidak sesuai dengan yang ada di novel. Saya tidak tahu kenapa ini terjadi. Apakah karena pembuat skenario tidak membaca dengan detil?? Ataukah sengaja dibuat seperti itu agar ceritanya lebih dramatis?? Atau agar ceritanya lebih 'pop' aja supaya banyak yang nonton.
Contoh perbedaan itu, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, Maria tidak pernah datang sendiri ke flatnya Fahri, di film ini digambarkan begitu, bahkan komputer Fahri di novel tidak ada cerita kena virus :). Fahri dan Maria juga tidak pernah berduaan sebelum menikah, tapi di film pernah digambarkan demikian.
Soal Nurul, saat Kyai Jalal meminta Fahri menikah dengan Nurul di novel kejadiannya adalah sebelum Fahri menikah dan disampaikan di flatnya, Kyai Jalal pun saat itu belum tahu kalau Fahri akan menikah, bukan setelah Fahri menikah dan dilakukan di rumah Aisha. Justru di novel pergolakan batin Fahri paling berat adalah di sini, yaitu pada saat dia akan melangsungkan pernikahan dengan Aisha, di saat yang sama dia baru tahu sebetulnya Nurul mencintainya dan ingin menikah dengannya. Di sana diceritakan sebetulnya Fahri sudah lama memendam rasa pada Nurul, namun dia tidak menghiraukan karena merasa perbedaan status mereka terlalu besar, Nurul ada Kyai besar di Indonesia, sedangkan keluarganya keluarga miskin. Dia juga menyesal karena kenapa berita itu baru datang di saat dia akan menikah dengan Aisha hari itu.
Tentang sakitnya Maria, di novel bukan karena ditrabrak mobil atas suruhan Bahadur, tapi Maria sakit karena depresi ditinggal Fahri menikah dengan gadis lain. Yang ini terus terang saya agak heran. Kenapa filmnya bukan seperti cerita di novel aja, pasti lebih menarik karena menggambarkan sosok Maria yang demikian mencintai Fahri sampai jatuh sakit, bahkan koma!
Tentang yang meminta merekam suara Fahri untuk menyadarkan Maria yang sakit sebetulnya adalah permintaan dari keluarga Maria, dan Josef adik Maria yang melakukan, bukan Aisha.
Terus yang meminta Fahri menikahi Maria yang pertama di novel adalah keluarga Boutros (ayah Maria) karena melihat anaknya koma dan kata dokter hanya bisa sembuh oleh sentuhan Fahri. Fahri tidak mau menikahi Maria karena dia sudah berjanji pada Aisha tidak akan memadunya. Lalu keluarga Boutros meloby Aisha agar mengijinkan Fahri menikahi Maria, dan Aisha menyetujuinya, bahkan dia mendukung dengan harapan setelah Maria sembuh akan bersaksi agar Fahri bisa terbebas dari tuduhan memperkosa Noura. Maria ini memang merupakan saksi kunci. Aisha tidak mau Fahri dihukum gantung karena tuduhan itu. Dia tidak mau kehilangan dia sehingga dia jadi janda dan anak dalam kandungannya jadi yatim.
Soal Alicia, seorang bule yang ditolong Fahri di Metro, di novel diceritakan pada akhirnya dia jadi muslimah setelah terbuka matanya dengan penjelasan Fahri soal Islam. Di film ini tidak ada. Saya maklum sih, soalnya agar film ini lebih bisa ditonton banyak orang dari berbagai agama sehingga tidak ada kesan kalah menang.
Soal bagaimana perjuangan Fahri mengetahui jati diri Noura sebetulnya juga tidak disampaikan di film, bahwa Noura yang sejak awal diceritakan sebagai anak Bahadur yang sering disiksa karena berwajah berbeda dengan orang tuanya, ternyata setelah dibantu oleh beberapa orang diketahui bahwa Noura sebetulnya memang anak seorang Jerman yang terhormat.
Satu hal lagi yang menurutku bertentangan dengan novelnya. Di film diceritakan bahwa beberapa kali Aisha bersitegang dengan Fahri setelah menikah karena masalah 'memaksakan' kekayaan Aisha kepada Fahri. Di novel hal ini disinggung juga tapi begitu santun, tidak ada perdebatan, bahkan Aisha sungguh hati-hati mengutarakan itu pada Fahri. Ini penggambaran sosok Aisha yang berbeda menurut saya. Bahkan di film dikisahkan Aisha jadi meragukan sosok Fahri yang memang baru beberapa kali bertemu sebelum menikah setelah ada tuduhan dia memperkosa Naura. Di novel sangat berbeda, dia begitu yakin Fahri tidak bersalah, bahkan sangat mendukung Fahri agar bisa keluar dari penjara.
Waktu di penjara juga, di novel berbeda dengan film. Di novel diceritakan Fahri satu sel dengan beberapa orang 'besar' (kalau tidak salah 6 orang), profesor yang berpengaruh, demonstran dan pembela rakyat kecil. Mereka semua membesarkan hati Fahri. Di film hanya 1 orang, orang ini mentertawakan Fahri walaupun akhirnya menyadarkan Fahri bahwa dia selama ini sombong dan merasa benar serta kurang ikhlas menerima bahwa istrinya lebih kaya. Di novel ini tidak ada.
Soal Maria, di novel tidak sempat sembuh dan pulang ke rumah Fahri setelah menikah, di novel diceritakan bahwa setelah sadar dari koma dan bersaksi di pengadilan Maria pingsan. Menurut dokter dia terlalu emosi sehingga ada pembuluh darah yang pecah. Di rumah sakit itu juga Maria kembali koma, setelah sempat sadar dia minta wudhu dan dituntun membaca syahadat (bukan sholat) lalu meninggal. Dikisahkan selama koma Maria merasa sudah hampir masuk pintu surga namun ditolak karena belum membaca shahadat. Lha di film Maria dikisahkan sempat sembuh dan pindah ke rumah Fahri dan Aisha. Di situ dikisahkan bagaimana kedua istri Fahri merasa saling cemburu dan berusaha menarik perhatian Fahri, sampai Fahri merasa capek mengakurkan keduanya. He..he.. ini sih di film biar lebih dramatik kali ya.. Mungkin ini diambil dari pengalaman orang yang punya 2 istri kali :). Memang menyuguhkan rasa cemburu pasti mengharu biru penonton :).
Itu tadi perbedaan novel dan filmnya. Menurutku sih kalau novelnya di-filmkan murni pasti filmnya bagus, tapi mungkin gak terlalu laku :(, seperti film-film peraih oscar yang tidak masuk box office.
Film AAC ini menurut saya bisa dibuat lebih baik. Saya merasa film ini terlalu terkesan terburu-buru sehingga detil-detil peristiwa yang menguatkan cerita malah tidak ada. Pembuat naskah memaksakan cerita yang panjang dalam film yang berdurasi pendek. Dalam bayangan saya seharusnya yang menjadi Fahri lebih cocok Surya Saputra yang di film itu menjadi paman Aisha. Surya terasa lebih 'berkarakter'. Tapi mungkin karena film ini target marketnya adalah para remaja dan ABG jadilah Fedi yang lebih muda menjadi bintang utamanya. Ceritanya menurut saya sih seharusnya target marketnya adalah orang dewasa yang siap menikah maupun yang sudah menikah karena menyuguhkan konflik poligami.
Kembali ke alur cerita film, sebetulnya kalau durasi pendek namun ingin mengisahkan background pemain, kondisi lingkungan serta latar belakang cerita bisa dilakukan dengan monolog dari Fahri di awal cerita yang menceritakan siapa tiap tokoh di film itu, lalu budaya di sana, termasuk aturan-aturan di Islam yang dipegang teguh Fahri, terus bagaimana kondisi lingkungan Fahri di Mesir yang demikian panas. Dengan monolog itu maka beberapa hal sudah tersampaikan sehingga cerita berikutnya bisa lebih ditangkap maknanya dan bisa dipahami lebih dalam dan menyentuh. Pendek namun bisa membawa pesan novel yang panjang itu ke layar lebar.
Wuah.. saya kok sudah seperti komentator betulan yah :). Jadi resumenya, keduanya cukup bagus untuk dinikmati, namun memang focusnya berbeda. Anggap saja filmnya kebetulan saja beberapa hal sama, jadi bukan novel yang diangkat ke film.
Buat pihak-pihak yang dikomentari mohon maaf :). Ini karena kecintaan saya pada hasil karya Ayat-Ayat Cinta baik novel maupun filmnya. Mudah-mudahan menjadi lebih baik lagi.


Sabtu, Maret 08, 2008

Mendorong anak menulis dengan blog


Anak saya Rizal tergolong yang tidak suka menulis. Jangankan bercerita panjang lebar. Menjawab pertanyaan saja sepotong-sepotong. Saya agak bingung juga. Kata gurunya (biasa dipanggil ustadzah karena di sekolah Islam) bilang bahwa si Rizal ini suka bercerita dan seringkali kata-kata yang dipakai 'ajaib' artinya kata-kata yang tidak biasa dipakai anak seusianya. Gak tahulah.. Saya sedang cari tahu kenapanya. Apa mungkin cara komunikasi kami yang tidak dia sukai.

Nah, si Rizal ini suka sekali baca dan saya dorong untuk sering mengamati percobaan-percobaan sederhana.

Karena alasan itu saya buatkan blog buat Rizal supaya dia mau nulis. Lihat di http://diaryrizal.blogspot.com/ . Apalagi ditunjang dia suka komputer. Barangkali aja mau tulis-tulis di sana. Waktu pertama kali dia lihat blognya.. Wuah seneng banget. Apalagi ada fotonya. Dia bilang "wah buk, fotoku ada di internet ya??". He..he.. Beberapa sampel tulisan saya bikin, lalu saya ajak dia menulis dikit-dikit sambil nambah gambar.

Hasilnya?? Memang belum efektif benar sih karena mungkin pada dasarnya dia nggak hobby nulis. Apalagi yang pakai pensil he..he.. Kalau ada PR berkelitnya panjang banget :)

At least, saya sudah berusaha memberi fasilitas dan cara.. Mudah-mudahan semakin bertambah umur dia semakin ada keinginan menulis. Amin.. Yang jelas guru-guru di sekolahnya senang banget Rizal punya blog :)

Jumat, Maret 07, 2008

Catatan Perjalanan Jakarta - Lewati Jembatan Penyeberangan Slipi

Sedikit catatan perjalananku di Jakarta. Saat ini karena ada proyek besar di Perusahaanku seringkali memaksaku untuk meninggalkan keluarga dan selama beberapa hari ke Jakarta. Seperti beberapa hari lalu. Hari Selasa sampai Kamis aku harus berdinas di Jakarta. Seperti biasanya aku menginap di Hotel Menara Peninsula. Beberapa alasan mengapa aku senang menginap di sini. Pertama memang ini langganan teman-teman. Kedua menurutku hotel ini adalah hotel yang price performancenya bagus. Artinya yang dibayar dan yang didapat oke banget :). Ketiga alasan yang lainnya yaitu dekat dengan mal walaupun kecil. Biasalah kalau kita jauh dari rumah pasti perlu tempat untuk 'jujukan' kalau mau beli barang-barang kebutuhan kecil. Juga cari makan! Nah hotel ini terletak di depan Slipi Jaya Plaza, sebuah mal kecil yang menurutku cukuplah kalau mau buat sekedar cari kebutuhan kecil-kecil, cari makan, beli oleh-oleh sederhana buat anak-anak dan bahkan juga bisa nonton :)
Seperti juga hari itu, hari Selasa malam Rabu. Seperti biasa aku menyeberang jembatan penyeberangan di depan hotel untuk sekedar mencari makan malam di Slipi Jaya Plaza. Tidak seperti biasanya kebetulan my husband juga sedang dinas di Jakarta jadi sekalian aja nginep di Peninsula. My husband sudah menunggu di Slipi Jaya Plaza karena seperjalanan, sedang saya dari hotel mau ke sana.
Jembatan di depan Menara Peninsula ini bisa dibilang unik menurutku. Di sini banyak orang berjualan mulai dari jual cd bajakan, pernik-pernik sebangsa sandal, lighter, sisir, tas kecil, sampai mobil-mobilan ada.
Selama aku lewat sana rasanya pembeli nggak banyak-banyak amat, tapi kalau mereka bisa survive berjualan artinya keuntungan itu pasti ada untuk menyambung hidup mereka :). Jualannya pun berganti-ganti. Hari ini jual topi, lain kali yang dijual sandal.. Begitulah.. jembatan kecil itu jadi 'pasar kecil' yang menghidupi beberapa orang yang mencoba mengais rezeki di sana. Buat aku sendiri bukannya terganggu dengan aksi mereka, karena mereka juga menjual dengan sopan dan tidak memaksa-maksa pembeli. Bahkan kadangkala jualan mereka menarik untuk dibeli, seperti pernah aku beli mobil-mobilan yang bisa jalan pakai baterai dan pintunya buka sendiri. Unik menurutku. Aku beli di sana seharga 10 ribu. Adikku beli di Surabaya 15ribu. Itupun sudah menawar.
Kadangkala aku juga 'meninjau' jualan mereka sekedar pengen tahu. Dan yang pasti karena mereka berjualan di situ, aku jadi merasa lebih aman berjalan di sana. Maklumlah kadang kalau tidak ada teman, terpaksa deh aku lewat jalan itu sendirian malam-malam.
Malam itu saat lewat jembatan, seperti biasanya, ada beberapa ibu-ibu sambil menggendong anaknya yang masih bayi duduk mengemis di sana. Biasanya sekitar 3 orang ibu. Kasihan sekali bayi-bayi mereka, malam-malam harus mencari uang.. Di saat seharusnya mereka mendapatkan kehangatan mereka harus berdingin-dingin, bahkan kadang kehujanan. Seringkali terbersit di hati ini, apakah iya mereka ibunya?? Ataukah cuma bayi pinjaman untuk obyek mengemis mereka?? Apakah ibunya setega itu bayi yang masih perlu kehangatan harus menghirup udara malam yang dingin, bahkan kehujanan. Ah kasihan sekali. Bahkan ada yang pernah cerita kadangkala bayi untuk mengemis itu adalah bayi yang dijual orang tuanya atau bahkan bayi yang diculik. Astaughfirullahaladzim.. Membayangkan saja membuat miris. Kasihan sekali bayi-bayi itu. Ingin sekali rasanya aku memberi uang bayi-bayi itu, tapi bukan ibunya!! Tapi gimana mungkin ya??
Ah malam itu saat melihat mereka pikiranku melayang ke anak-anak yang kutinggal di rumah. Ah setidaknya bayi-bayi itu masih beruntung karena bisa bersama ibunya (itu kalau mereka benar ibunya lho :). Anak-anakku di rumah sendirian tidak ditemani ibunya. Kadang sama pembantu saja, atau sama Eyangnya. Kalau sama Eyangnya masih mending karena bisa diajak jalan-jalan. Ah, dari sisi itu mereka mungkin lebih beruntung malam ini.
Satu lagi yang unik yang aku amati di jembatan itu, yaitu seorang laki-laki, yang yah.. mungkin umurnya baru sekitar 50 tahunan lah. Laki-laki dengan penampilan kumal. Orang ini selalu membersihkan sampah di jembatan itu dengan memakai sapu lidi buntut. Menyapunyapun sambil duduk dan merangkak. Aku tidak tahu apakah memang dia lumpuh atau memang sengaja dia begitu. Laki-laki ini menerima belas kasihan dari orang yang lewat. Yah sebetulnya dia ini adalah pengemis, tapi dia tidak sekedar mengemis. Dia bersihkan jembatan itu dari sampah. Cukup lumayan juga untuk jembatan sepanjang itu, dan tentu saja orang yang membuang sampah sembarangan cukup banyak.
Saya lebih sering memberi orang ini uang daripada pengemis tadi. Kerjanya itu yang aku hargai. Bagiku kerja kerasnya patut dipuji. Bahkan dengan begini menurutku dia tidak layak disebut pengemis!
Pernah suatu saat selama beberapa lama bapak ini tidak beroperasi. Alhasil jembatannya jadi kotor berat dan kumuh.
Karena itu setiap lewat jembatan di depan Slipi Jaya itu selalu aku mengamati bapak tua ini..

Selasa, Februari 26, 2008

Ibu Bekerja?? Jangan ragu memberi ASI eksklusif

Sekali lagi, ini hanya sharing pengalaman saya memberikan ASI eksklusif bagi kedua buah hati saya Rizal & Rafif.
Saya seorang Ibu bekerja dengan waktu yang ketat mulai jam 7.30 - 16.30. Bagi saya yang seorang Ibu, tentunya ada rasa bersalah dan sedih harus meninggalkan anak-anak, apalagi kalau mereka masih bayi. Saya sendiri tergolong yang susah punya anak, sehingga amanah yang sudah diberikan Allah betapa sayangnya apabila tidak mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Allah sendiri juga memerintahkan untuk menggenapkan proses menyusui ini sampai 2 tahun.
ASI adalah hak setiap anak. Di dalam ASI terkandung zat-zat yang sangat dibutuhkan bayi sesuai dengan usianya. Subhanallah.. ASI dari ibu bayi umur 1 bulan kandungannya berbeda dengan ASI dari ibu bayi 5 bulan. Selain berisi nutrisi penting untuk pertumbuhannya, juga terkandung zat kekebalan tubuh. Dan satu lagi.. Dengan memberi ASI terjadi ikatan yang kuat antara ibu dan bayinya.. Ah.. senangnya kalau sudah menyusui.. Begitu dekatnya kita dengan bayi kita.. Begitu terasa kasih sayang itu.. Begitu terasa berharganya kita sebagai ibu.
Buat saya sendiri menyusui adalah hal yang spesial. Saya berusaha memberikannya sekalipun saya bekerja. Memang tidak gampang tapi saya yakin setiap ibu bisa jika ada kemauan!! Perlu komitmen dan kesungguhan demi buah hati tercinta.
Gimana caranya?? Pagi hari sebelum saya berangkat saya sempatkan menyusui dulu. Kemudian saya bawa botol susu yang sudah disterilkan, biasanya 2 botol. Nah, kira-kira antara jam 9-10 saya sempatkan memerah susu. Awalnya saya pakai pompa. Tapi terakhir saya cuma menggunakan tangan. Ternyata tidak sulit juga dan praktis karena tidak perlu membawa alat.
Alhamdulillah saya punya tempat persembunyian untuk memerah susu :). Teman-teman saya sih sudah hapal dengan kebiasaan ini. Paling-paling mereka menggoda saja he..he..
Setelah susu diperas botol itu aku masukkan di ruang server yang dingin seperti kulkas. Kebetulan sih saya penguasa ruang itu jadi leluasa :). Bagi yang tidak ada ruang seperti itu ya bisa ditempatkan di kulkas, atau bila perlu bawa termos :). Repot ya?? Iya sih.. tapi demi anak, apapun akan dilakukan!! Rasanya tidak ada artinya kerepotan itu jika dibandingkan manfaat yang akan diraih.
Siang hari pas jam istirahat saya bisa pulang. He..he.. kebetulan rumah dekat kantor jadi Alhamdulillah bisa pulang jam istirahat. Botol yang sudah diisi langsung ditaruh freezer. Habis itu saya bisa menyusui langsung.
Oh iya.. mungkin di awal yang agak repot adalah menyesuaikan jam. Artinya mendisiplinkan bayi sebelum ditinggal agar di jam-jam tertentu dia menyusu, termasuk mendisiplinkan jam tidur. Memang sebelum kembali bekerja kira-kira 2 minggu sebelumnya kita perlu melatih anak untuk meminum dari botol atau sendok. Usahakan jangan ibu yang memberikan karena biasanya anak menolak dan membuat bayi bingung. Biarlah ibu pengganti Anda yang melakukannya.
Balik lagi ke cerita tadi, setelah kembali ke kantor di sekitar jam 3 saya memerah lagi. Pulang kerja dimasukkan freezer lagi.. Begitu seterusnya. Jangan lupa untuk memberikan tanda kapan susu di botol itu diperah sehingga waktu diberikan ke bayi dengan konsep FIFO (first in first out). Di freezer katanya sih ASI bisa bertahan dalam hitungan bulanan, kalau ditaruh di chiller nya bisa tahan 2 hari, tapi dengan syarat gak sering dibuka pintunya ya.. Kalau di udara terbuka ASI tahan 2 jam. Nah sebelum diberikan ASI dikeluarkan dari chiller, biarkan mencair. Jika sudah cukup mencair hangatkan dengan mencelup botol di air panas / hangat. Jangan digodok! Setelah cukup hangat berikan langsung kepada bayi.
Dari pengalaman saya alhamdulillah saya bisa memberi ASI eksklusif selama 4 bulan buat Rizal dan 5 bulan buat Rafif. Si Rizal saya susui hingga 1 tahun 6 bulan sedangkan Rafif 1 tahun 8 bulan. Alhamdulillah saya sudah cukup memberikan hak mereka. Sebetulnya saya ingin sekali menggenapkan hingga 2 tahun, tapi karena waktu itu saya hamil lagi, ternyata mereka langsung menolak bila saya susui :(. Mungkin rasanya lain kali ya... Kata orang tua-tua dulu juga begitu.
Yang heboh lagi kalau saya harus keluar kota. Jadinya selalu bawa rombongan. Paling tidak pembantu diajak buat menjaga anak. Soalnya kalau berhari-hari tidak disusui jadinya produksi ASI berkurang.. Oh iya.. semakin kita berikan semakin banyak produksi ASI. Makanya ibu-ibu jangan diselingi dengan botol pada saat periode ASI eksklusif, karena jika diselingi artinya produksi ASI juga akan berkurang. Kalau bayi sudah mulai makan makanan padat, boleh aja diberikan susu formula, tapi ASI tetap ya bu.. Susu formula hanya apabila ibu tidak available saja waktu itu. Jangan malas juga menyusui pada malam hari. Memang mengantuk, tapi kalau setiap hari kita biasakan, rasa kantuk itu akan hilang. Dan satu lagi jangan pernah ada dalam pikiran bahwa kita tidak mampu menyusui karena ASInya kurang. Dengan keraguan itu justru mengurangi produksi ASI. Yakinkan ibu bahwa ibu bisa!! InsyaAllah akan lancar. Bagaimanapun juga Allah sudah mencetak tubuh kaum Ibu agar bisa menyusui anaknya. Ini natural sekali jadi jangan punya pikiran tidak mampu. Ada beberapa ibu bilang kalau anaknya ingin menyusu terus sehingga berpikiran ASInya kurang dan anak masih lapar. Menurut saya sih sebetulnya anak kurang nyaman saja sehingga ingin menyusu terus (padahal sebetulnya bukan untuk minum tapi ingin mendapat ketenangan dengan mengenyot puting ibu). Apalagi kalau ibu terus merasa ASInya kurang.. Resah.. Wah tambah rewel deh anaknya.. dan tambah berkurang ASInya.. Yakin aja ya bunda :)
Ada lagi ibu yang sulit menyusui karena putingnya tidak muncul. Ini memang menyulitkan bayi. Tapi bukannya tidak ada solusi ya bunda.. sekarang kan ada nipple puller, itu alat yang bisa menarik puting.. Pake itu aja yang rutin, nanti juga bisa keluar kok putingnya. Saya ada pengalaman waktu Rizal mulai menyusu. Kebetulan puting saya memang rata. Waktu dia sudah lapar wuahh heboh deh.. Dia bisa cari-cari puting sambil geleng-geleng kepalanya tidak sabar. Mukanya sampai merah.. Akhirnya saya cari akal. Waktu dia gitu saya kasih susu di dot sedikit. Setelah dia agak tenang barulah saya kasihkan puting saya. Alhamdulillah berhasil dan semakin dia rajin menyusu putingnya jadi keluar sendiri.
Begitu bunda.. Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat. Bukan bermaksud menggurui atau narsis, tapi cuma berbagi pengalaman aja. Mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi bunda-bunda lain yang bekerja ataupun tidak untuk berusaha memberikan ASI bagi bayi-bayi penerus bangsa ini.

Jumat, Februari 22, 2008

Pengalaman Mengajari Anak Komputer


Ini cerita tentang pengalaman saya mengajari anak saya komputer. Semula saya menganggap kalau pegang komputer mesti anak usia cukup misal 5 tahun begitu. Suatu saat seorang teman kuliah dulu cerita kalau anaknya 3 tahun diajari komputer bisa, terus dia bilang kalau mestinya lebih awal bisa juga. Ah masa iya, begitu saya pikir semula.
Waktu itu anak pertama saya Rizal umur 2.5 tahun. Untuk membuktikan perkataan teman saya tadi saya coba memperkenalkan komputer kepada Rizal.
Sebelumnya sih si Rizal ini selalu interest kalau saya atau bapaknya lagi pegang komputer. Kalau teman-teman bilang sih, lha memang bapak ibu nya orang komputer ya gimana lagi :). He..he.. tapi begitulah, setiap kami sedang berada di depan komputer dia selalu memperhatikan dan selalu gatal tangannya mau ikut pencet-pencet :).
Oke akhirnya saat dia berumur 2.5 tahun mulai saya ajak Rizal di depan komputer. Awalnya tentu saja dia senang pencet-pencet. Oke, saya bukakan ms word atau notepad. Setiap kali dia pencet tuts di keyboard, saya tunjukkan bahwa yang dipencet akan terlihat di komputer, sekaligus mengajari dia huruf. Rizal ini 2 tahun sudah mulai mengenal huruf, jadinya tambah cepat deh dia belajar hurufnya.
Oke.. setelah dia mulai suka pencet-pencet yang terlihat hasilnya di layar saya kenalkan dia dengan mouse. Saya buka aplikasi paint. Nah dia mulai belajar bagaimana mouse yang dia gerakkan berakibat jadi gambar di layar. Wuah dia senang banget. Awalnya sih dia belum bisa mengendalikan mousenya, tapi lama-lama bisa juga. Saya tunjukkan sama Rizal bagaimana memberi warna. Wah tambah asyik deh dia click sana sini kasih warna sana sini :)
Kebetulan kami ada notebook yang memiliki touchpad untuk mousenya. Jadilah jari Rizal yang mungil bermain-main di atas touchpad dan saya surprise juga ternyata dia bisa! Ibu saya berkomentar kalau lucu juga lihat Rizal dengan jari mungilnya menari-nari di atas touchpad, padahal beliau sendiri belum lihai kalau pakai mouse :)
Oke setelah dia lihai memakai keyboard dan mouse mulai saya perkenalkan cd-cd edukatif seperti Akal Interaktif. Wah senang banget dia.. Saya kenalkan cd yang memang untuk balita, misal pengenalan warna, angka, huruf.. yah semacam itulah.. Waktu itu dia mungkin sekitar 3 tahun, saya belum berhasil mengenalkan warna kepada dia, tapi dengan cd itu hanya dalam waktu 2 hari dia sudah tahu konsep warna :))
Bagaimana dengan sekarang?? Wah.. wah.. si Rizal ini memang tipe eksplorer. Alhamdulillah.. dia bisa mengeksplor sendiri menu-menu yang ada. Tidak hanya di games saja, tapi juga yang ada di windows. Pengalaman file hilang?? He..he.. itu mah bukan sekali dua kali.. Tapi yah., memang itu risiko memberi kebebasan anak belajar. Yang penting untuk dokumen-dokumen penting harus punya backup.
Supaya aman lagi si Rizal saya buatkan user sendiri yang setingkat user biasa (bukan admin). Jadi kalau ada file-file yang terhapus efeknya bisa diminimalisir. Tapi dengan user biasa kadang dia jadi tidak bisa instal game (dia sudah jagoan kalau urusan instal ini :)). Okelah kalau dia mau instal kita pinjami user kita yang setingkat admin. Pernah juga yang bikin surprise, ternyata dia sudah bisa mengganti usernya dari yang setingkat user biasa menjadi admin.. he..he.. tahu juga nih anak :)
Risiko lain apa lagi ya.. Oh iya kita banyak korban cd. Yang namanya cd rusak sudah nggak kehitung, lha gimana beberapa kali dikasih tahu mesti hati-hati tetap aja perlakuan terhadap cd tidak semestinya. Tapi ya sudahlah ini memang harga yang harus dibayar. Kalau cd nya bisa dicopy kami copy dulu sebelum dipakai Rizal. Aslinya disimpan.
Begitulah.. aku juluki anakku yang satu ini Rizal the explorer :). Memang begitulah keadaannya. Sekarang dia bisa mandiri belajar komputer. Internet sedikit-sedikit juga saya ajarkan, termasuk bikin blog untuk dirinya sendiri. Sekarang dia sudah kelas 2 SD. Macam-macam game sudah dikuasai, bahkan kadang lebih jago dari saya. Soalnya kalau saya main asal aja, kalau dia selalu baca help dan tidak ragu-ragu mencoba. Oh iya dengan baca help ini skill bahasa Inggrisnya juga bisa dilatih.
Sekarang untuk anak saya yang nomer 2 (Rafif) maunya sih saya perkenalkan seperti Rizal. Usianya sekarang 3 tahun.. Tapi saya lihat minatnya ke komputer nggak seperti kakaknya. Dia lebih suka memperhatikan kakaknya main game daripada pegang sendiri..
Tadi malam saya baru lihat dia ingin pegang sendiri tapi malah bertengkar dengan kakaknya karena sama-sama ingin main :)
Okelah mungkin ini memang saat bagi Rafif mengenalkan komputer. Mungkin tidak secepat kakaknya tapi mudah-mudahan kemampuannya tidak kalah :)

Kamis, Februari 21, 2008

Manajemen Risiko


Saya sedikit mau sharing tentang ilmu baru yaitu Manajemen Risiko. Ilmu ini terhitung baru saja populer khususnya di Indonesia. Di beberapa perusahaan sudah diwajibkan menerapkan hal ini.
Sebetulnya sih secara 'alami' kita sudah menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saat kita mau bepergian, mau lewat jalan A sudah kita hitung risikonya misalnya macetnya, lamanya, medannya seperti apa dll. Demikian juga kalau lewat jalan B, C dan D. Akhirnya kita memutuskan mengambil jalan yang mana yang risikonya kecil.
Keuntungan dari Manajemen Risiko ini adalah kita sudah memperhitungkan sejak awal risiko-risiko yang akan timbul dari suatu tindakan yang akan kita ambil. Dengan memetakan risiko kita lebih siap apabila risiko yang sudah dipetakan terjadi, bukannya kaget terus bingung apa yang mesti dilakukan.
Contoh sederhananya saat kita akan pergi dari Surabaya ke kota Malang melewati Porong. Kebetulan ada demo warga korban Lapindo. Nah jalan mana yang akan ditempuh? Kalau lewat jalan utama artinya harus ketemu pendemo. Apa risikonya? Mungkin macet. Seberapa parah? Bisa merayap tapi lancar, bisa juga nggak bisa bergerak sama sekali.
Kalau lewat jalan alternatif gimana? Yang jelas lebih jauh, berarti bahan bakar butuh lebih banyak. Ada kemungkinan macet juga karena semua kendaraan ambil jalur itu. Ada kemungkinan kesasar juga karena belum tahu jalan.
Nah akhirnya kita pertimbangkan apa jadi apa nggak ya ke Malangnya.. Kalau memang bisa ditunda atau tidak penting ya gak jadi aja. Kalau penting dan harus, nah.. kudu menyiapkan segala sesuatunya misal bahan bakarnya cukup (termasuk duit nya ya :)), kalau mengajak anak-anak perbekalannya harus lengkap, soalnya di jalannya makan waktu lama, mungkin perlu bawa bantal dll, tanya-tanya orang yang tahu jalur di sana, dengerin info dari radio dan masih banyak lagi. Jangan sampai misalnya kita sudah ambil jalan alternatif, eh ternyata macet juga dan kita belum siap antisipasi bagaimana.
Yah kira-kira ilmunya seperti itu secara sederhana. Kalau teorinya begini, pertama kita petakan risiko-risiko yang akan timbul sehubungan dengan tindakan yang akan kita lakukan. Kalau Anda menerapkan ilmu ini di bisnis akan sangat bermanfaat. Misal jika kita mau buka toko pakaian di suatu tempat, dianalisa risikonya, misal di tempat itu banyak pesaing, harga yang kita patok sama atau lebih mahal dari sekitarnya, daerahnya kurang aman dll. Dari risiko itu dibuat analisa kemungkinan terjadinya seberapa sering lalu kita beri angka. Misal sering sekali (5), sering (4), menengah (3), jarang (2), jarang sekali / tidak mungkin terjadi (1). Lalu kita petakan dampak yang akan terjadi apabila risiko itu timbul dan kita beri angka. Ekstrim (+/- 4), Tinggi (+/- 3), Sedang (+/- 2), Rendah (+/- 1). Oh iya risiko itu dampaknya bisa diberi nilai positif atau negatif. Negatif apabila dampaknya sesuatu yang merusak atau merugikan, sedangkan positif apabila itu berupa 'opportunity loss' atau kehilangan kesempatan.
Bagaimana memberi nilainya?? Itu tergantung risk appetite atau sensitifitas Anda masing-masing. Beri saja nilai sesuai justifikasi Anda.
Kemudian kita lakukan level dari risiko dengan mengalikan kemungkinan dan dampak yang akan ditimbulkan. Dari angka yang diperoleh kita bisa membuat prioritas. Dengan melakukan prioritasisasi ini membuat kita lebih fokus untuk menyelesaikan yang lebih urgent terlebih dahulu. Jangan sampai tenaga & pikiran kita terkuras ke banyak hal, padahal hal tersebut bisa ditunda dan sebetulnya tidak prioritas untuk dikerjakan atau ditindaklanjuti.
Tentukan juga strategi yang akan diambil dalam menghadapi risiko tersebut. Ada 4 opsi yaitu accept (menerima saja risiko tersebut), avoid (diabaikan saja), mitigate (mengurangi kemungkinan terjadi atau mengurangi dampaknya apabila terjadi), transfer (mentransfer risiko ke pihak lain).
Setelah itu siapa yang akan menindaklanjuti dan kapan. Ini perlu supaya apa yang sudah dipetakan tadi tidak hanya jadi peta di kertas :).
Harus ada action dan target waktu! Nah selesai deh.. Tinggal mewujudkan apa yang sudah jadi komitmen di kertas tadi agar sesuai dengan target waktu dan action plan yang sudah ditentukan.
Apakah ini akan jadi dokumen yang statis?? Tentu saja tidak. Perlu periodik review karena setiap waktu sesuai dengan langkah yang diambil maka peta risikonya tentu saja sudah berubah.. Selamat memetakan risiko :)

Rabu, Februari 13, 2008

Tips Untuk Menghindari Dan Mengatasi Kejahatan Hypnosis Tradisional (Gendam)


Beberapa bulan yang lalu pas lagi googling mencari info tentang hypnotherapy kok menemukan artikel yang bagus ini. Tips ini saya ambil dari situs salah satu ahli hypnotis Indonesia yaitu mas Yan Nurindra. Kebetulan istri beliau ini dulu teman kuliah saya. Mudah-mudahan bermanfaat.

Penipuan melalui hipnotis atau di kalangan masyarakat umum dikenal dengan istilah "gendam", dipercaya sebagai teknik hipnotis dengan menggunakan kekuatan magic & mistik.
Secara teknis, fenomena "gendam" dapat merupakan salah satu atau gabungan dari : hipnotis konvensional dengan metode induksi kejutan, hipnotis Ericksonian, teknik energi esoteris, atau kekuatan pikiran (telepati, magnetisme). Berikut ini petunjuk untuk menghindari dan mengatasi kejahatan Hipnotis atau "gendam" :
- Jangan membiarkan pikiran kosong ketika berada di daerah umum. Pikiran kosong dapat mengakibatkan gerbang telepati terbuka, sehingga pihak lain dapat dengan mudah menyampaikan pesan secara telepati.
- Waspadalah jika tiba-tiba timbul rasa kantuk yang tidak wajar, ada kemungkinan bahwa seseorang yang bermaksud negatif sedang melakukan "Pemaksaan Secara Telepati".
- Bagi mereka yang memiliki kebiasaan "latah", sebaiknya jangan bepergian ke tempat umum tanpa teman. Mereka yang mempunyai kebiasaan "latah" cenderung memiliki gerbang bawah sadar yang mudah dibuka paksa dengan bantuan kejutan (Shock Induction). Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mudah terkejut.
- Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada beberapa orang yang tidak dikenal mengerumuni anda untuk suatu alasan yang tidak jelas. Sekali jangan mudah panik ! Karena rasa panik akan mempermudah terbukanya gerbang bawah sadar anda !
- Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu anda ! Usahakan agar pikiran dan panca indera anda tetap aktif ke seluruh lingkungan ! Jangan terfokus pada ucapan-ucapan orang yang menepuk anda ! Segera berpindahlah ke daerah yang lebih ramai !
- Jika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dada anda terasa sesak, dan diikuti dengan perut agak mual, dan kepala sedikit pusing, waspadalah karena mungkin ada seseorang tengah mengerahkan energi gendam ! Segera lakukan "grounding", yaitu meniatkan membuang seluruh energi negatif ke bumi (cukup visualisasi).
- Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera sibukkan pikiran anda, agar tetap berada di frekwensi yang mengakibatkan efek hipnotis tidak dapat bekerja ! Antara lain dengan : berdoa dalam hati, menyanyi dalam hati, atau memikirkan hal-hal yang berat !
- Jika ternyata anda mulai merasa memasuki suatu "kesadaran berbeda" dari biasanya, mungkin anda sudah mulai terpengaruh oleh Hipnotis. Jika anda merasakan hal ini, maka segera niatkan dalam hati : "Dalam 3 hitungan, saya akan kembali sadar dan normal sepenuhnya ....", kemudian segera hitung dalam hati : "Satu ..., dua, ... tiga".
- Akhirnya, tanamkan terus menerus di dalam diri anda, bahwa hipnotis tidak akan bekerja bagi mereka yang menolaknya ! Hal ini juga berlaku untuk ilmu gendam !

Tips ini disampaikan oleh Yan Nurindra, pakar Hypnosis yang sangat menguasai Western Hypnosis dan Traditional Hypnosis (http://www.yannurindra.com/)

Kamis, Februari 07, 2008

Kalau Lama Belum Punya Anak Jangan Putus Asa


Judulnya kelihatannya usang ya?? Yah tapi begitulah, dan begitulah yang saya alami. Saya tergolong lama tidak punya anak. Bukannya tidak bisa hamil, tapi seringkali keguguran.
Saya menikah tahun 1997. 3 bulan kemudian saya hamil. Alhamdulillah, rasanya senang sekali. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena baru 3 bulan janin yang saya kandung keluar. Sedih?? Tentu saja. Namun saya tidak putus asa. Mungkin memang belum rezeki kami. Tidak lama kemudian saya hamil lagi.. dan keguguran lagi.. Demikian seterusnya.
Sempat juga sih stres, tapi berkat dukungan suami tercinta kami coba terus. Berbagai dokter sudah kami coba untuk konsultasi, termasuk sudah banyak juga test-test yang dilakukan. Ketemu masalahnya?? Kira-kira demikian. Tapi tidak saya ceritakan di sini ya.. Soalnya mungkin terlalu teknis banget dan istilahnya terlalu kedokteran banget :-).
Intinya kata Pak dokter kemungkinan saya bisa hamil sampai besar dan lahir normal ada, tapi cuma sekitar 30% an probabilitasnya.
Akhirnya dengan doa yang terus kupanjatkan, pada kehamilan ke 7 Alhamdulillah bisa sampai besar. Itupun pada bulan ke 3 sempat bed rest selama 2 minggu soalnya sempat ada pendarahan.
Alhamdulillah.. saat kelahiranpun tiba. Deg-degan rasanya. Tentu saja sebagai calon Ibu was-was dengan kondisi bayi yang dikandung.. Apakah bisa selamat,... Apakah normal???
Dokter yang menangani menyarankan operasi saja karena melihat riwayat dan perjuangan yang berat.
Akhirnya lahir juga anak pertamaku. Seorang laki-laki yang sehat dan ganteng. Alhamdulillah rasanya rasa syukur itu tidak pernah ada habisnya.
Setelah itu suamiku masih ingin anak lagi.. Tentu dong.. Satu kurang katanya. Dan.. tebak pada kehamilan ke berapa itu terjadi?? Kehamilan ke 10 !!! Yah.. yang ke 8,9 aku keguguran lagi.
Setelah ada 2 masih ingin satu lagi :-). Kata suami kita sama-sama 3 bersaudara jadi anak juga harus 3 :-). Akhirnya kami coba lagi. Namun sampai dengan kehamilan ke 13 gagal :(.
Saya tidak tahu apakah Allah masih berkenan. Yang jelas umur saya sudah tidak muda lagi. Sudah 37. Kata orang sudah usia rawan.
Ada yang bilang.. Wah kalau semuanya jadi bisa bikin kesebelasan nih.. sudah dengan wasitnya lagi :-)

Perjalanan Jakarta Waswas Banjir

Senin, 4 Pebruari kebetulan aku ditugaskan ke Jakarta. Wuah.. lihat tv banjir dimana-mana. Belum info dari teman-teman mesti menginap di bandara dan tidak tahu kapan akan berangkat. Maunya sih tidak usah berangkat saja. Tapi gimana ya wong sudah tugas.

Mulai Minggu acara tv yang kuikuti cuma berita saja. Gimana ya nasib Jakarta?? Gimana nasib jalan tolnya??

Syukurlah jam 10 malam seorang tetangga mengabarkan kalau perjalanannya ke Jakarta lancar. Walaupun tidak lewat tol bandara dan harus putar lewat Tangerang, tapi cukup lancar. Padahal berita sebelumnya katanya macet karena semua kendaraan lewat sana.

Bismilah dengan deg-degan akhirnya berangkat juga saya pagi harinya. Kabarnya tol bandara sudah dibuka.

Tas yang kubawa adalah tas ransel. Jaga-jaga kalau medannya ganas :-). Terus kubawa buku bacaan yang tebal, he..he.. siapa tahu mesti lama menunggu di bandara bisa dibaca-baca..

Habis sampai Cengkareng, Alhamdulillah.. Memang sudah bisa dilewati, dan... saat taksi saya melintas, wuah... bekas air aja sudah tidak ada. Yang tersisa cuma bekas pompa air. Banyak sekali, malah beberapa adalah bantuan dari Jepang (kok dari Jepang ya???).

Lalu mobil stasiun tv juga berjajar-jajar, mungkin lagi meliput.

Akhirnya saya selamat juga sampai ke kota.

Hari Rabu saya balik lagi ke Surabaya. Karena takut hujan deras dan banjir lagi (pagi-pagi jam 5 sudah hujan lagi lho) akhirnya acara hari itu dibatalkan saja dan langsung pulang :-)

Alhamdulillah sampai dengan selamat juga di rumah. Buku Chicken soup yang kubawa cuma sempat dibaca waktu di pesawat perjalanan pulang.. Alhamdulillah...